“INILAH AKU dan HIDUPKU”
Aku terlahir dari keluarga yang sederhana, aku mempunyai 3 saudara dan
aku anak terakhir. Sebagai anak terakhir, aku yang paling membebankan
beban orang tua. Sewaktu kecil aku terkena penyakit yang sulit
disembuhkan oleh dokter dan tidak di ketahui jenisnya. Orang tuaku
bekerja keras mencari biaya dengan berbagai cara, tidak kenal panas
maupun hujan untuk mencari biaya supaya dapat membeli obat, waktu kecil
hampir setiap hari hanya obat yang aku makan tetapi tidak kunjung
sembuh. Setelah beberapa bulan aku sakit, ada seseorang yang menyarankan
untuk membawa aku ke sebuah makam seorang pastor, disana aku diajak
berdoa dan di beri sebuah bibit pohon kamboja yang daun dan bunganya
harus direbus dengan air lalu aku disuruh untuk meminumnya. Setelah
beberapa hari ternyata penyakit itu semakin berkurang. Selama masa kecil
aku di jaga oleh kedua kakakku selama orang tua berada di ladang untuk
bekerja mencari rejeki untuk biaya sekolah kedua kakakku. Pada saat aku
mulai masuk TK aku berubah menjadi anak yang paling nakal di antara
semua teman-temanku, jika keinginanku tidak dituruti apa saja bisa aku
rusak, aku masih belum tau kalau beban orang tua tidak cukup hanya untuk
memenuhi keinginanku, sifat itu aku bawa hingga aku duduk di bangku SD.
Dulu waktu pulang sekolah yang paling sering aku lakukan adalah bermain
lempar batu yang paling jauh itu yang menang, lemparanku paling sering
terkena genting rumahnya orang sehingga jika yang punya rumah sudah
keluar, aku pasti langsung lari, dan juga jika melewati ladang yang ada
buahnya tidak lupa aku mampir untuk memetik tidak peduli itu milik
siapa. Hingga tanaman orang tuaku aku rusak dan aku buat pedang-pedangan
hingga banyak yang putus, aku pernah diikat pada sebuah pohon oleh
ibuku karena kelakuanku sambil aku menangis tetanggaku yang kebetulan
berada di ladang tersebut menertawaiku, saat itulah aku dikenal
orang-orang desa sebagai anak yang paling nakal, hingga sekarang pun
jika aku pulang dari surabaya dan kebetulan ada doa bersama aku pasti
ditanya sama orang-orang “ iseh nakal opo ora “ ( masih nakal apa tidak
), aku jawab ya tidak. Kedewasaan membuat sifat orang bisa berubah. Dulu
aku hanya mementingkan kesenangan tidak pernah memikirkan beban yang
ditanggung orang tua. Dulu waktu SD jika bawa uang saku aku diberi
Rp.200,- oleh orang tuaku itupun tidak setiap hari, sehingga aku pernah
mengambil uang punya nenek Rp.500,- untuk beli jajan. Setelah lulus SD
aku melanjutkan ke SMP Katolik yang jaraknya jauh dari rumah jika
berangkat sekolah dari rumah pukul 05.00 pagi dan sampai di sekolah
pukul 06.30 itupun ditempuh dengan jalan kaki. Tetapi aku sekolah di smp
hanya satu bulan karena pada waktu itu tiba-tiba kakaku yang bekerja di
surabaya
datang kesekolahan untuk menjemput dan aku langsung disuruh pamitan
pada semua guru dan teman-teman. Akhirnya aku meneruskan sekolah di surabaya. Dulu aku sangat pengen sekali melihat suasana kota dan aku pikir hidup di kota itu sangat enak, aku tidak ada persiapan sama sekali karena tidak diberi tahu sebelumnya, keesokan harinya aku berangkat ke surabaya. Sampai disurabaya aku merasa sangat kagum dengan suasana kota, tetapi udara di surabayasurabaya,
aku tidak tau apa-apa, jd kalau bicara masih ada bahasa jawanya.
Setelah orang-orang yang sekolah di SMK sudah lulus, ada lagi seorang
teman yang masuk disitu tetapi umurnya juga lebih tua, mulai dari
situlah aku diajari bahasa-bahasa kasar dan diajak merokok,
minum-minuman keras hingga mencuri walaupun anak itu sering mencuri
tetap tidak ada yang tau, akupun hanya ikut-ikutan karena ku tidak tau
apa-apa, walaupun aku didesa dikenal paling nakal tetapi setelah di
surabaya aku tidak berani berbuat apa-apa kalau tidaka ada yang
mengajak. Setelah beberapa bulan lagi masuk seorang anak, awalnya baik
tetapi setelah beberapa lama sifatnya sama seperti temanku tadi, karena
disitu aku yang paling kecil, aku yang paling sering dikerjai karena aku
masih katrok untuk bergaul dg orang kota. Dulu aku berpikir kalau hidup
dikota itu enak tetapi setelah dijalani malah sebaliknya. Aku hampir
putus asa dan ingin keluar dari sana, saat liburan aku bicara kepada
orang tuaku kalau aku ingin keluar tetapi aku justru dimarahi dg
kata-kata yang membuat aku jadi sedih, saat kembali kesurabaya ibuku
ikut untuk bicara kepada suster pimpinan, orang tuaku menyerahkan aku
untuk dididik oleh suster sambil menangis, aku yang berada disampingnya
juga tidak luput ikut sedih hingga menangis juga. Akhirnya aku berusaha
kuat dan menjalani kehidupan sehari-hari hanya berbekal kesabaran,
mungkin Tuhan sudah mengatur hidupku, hingga pada suatu saat suster yang
membimbing aku dan teman-teman marah-marah karena masalah kamar yang di
coret-coret dll, sampai memberi tiga peringatan, tetapi itupun tidak
dipedulikan. Saat hari minggu suster datang lagi kekamar untuk
mengecek, setelah melihat kamar yang begitu berantakan suster itu
marah-marah dan kami disuruh mengemasi barang-barang dan besok harus
sudah keluar dari kamar tersebut. Setelah aku merasakan tidur diluar aku
sangat senang karena bisa berpisah dengan teman-teman yang mengajariku
hal-hal negatif, mungkin jika aku tetap bersama temanku tadi sifat
jelekku mungkin masih ada, tetapi setelah hidup diluar, sekarang aku
merasakan balasannya, aku tidak bisa merasakan kesenangan seperti dulu
yang tiap bulan harus membayar kos, aku lebih banyak berdiam diri,
tetapi setelah hidup diluar aku merasakan banyak perubahan tidak pernah
ditakuti oleh rasa takut, karena aku tau, aku bukan orang yang kaya
lebih baik berdiam diri dan lebih baik tidak punya apa-apa dari pada
harus sering melakukan hal-hal yang negatif. Selama hidup diluar aku
tidak pernah membawa uang saku karena aku tau uangnya sudah dipakai
untuk membayar kos, walaupaun begitu aku tidak pernah mengeluh hanya
kesabaran yang menjadi motivasiku. Aku hanya merasa tidak enak dengan
teman-temanku karena jika disuruh membayar sesuatu aku tidak bisa
langung membayar, mungkin butuh waktu untuk mengumpulkan karena jika aku
terus-menerus meminta kepada kakakku dan orang tuaku aku merasa
kasihan. Apalagi sekarang sekolah butuh biaya yang sangat tinggi.
Walaupun begitu aku tetap bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi
kesempatan untuk sekolah di tempat ini, Tuhan juga telah mengubah
hidupku dengan memberi jalan yang lebih baik. Sampai sekarang aku merasa
orang-orang memandangku sebagai anak yang tidak baik meskipun aku tidak
tau yang sebenarnya, yang terpenting aku jalani saja hidup ini dengan
hal-hal positif, tidak peduli dengan pikiran dan kata orang. sangat
panas sekali tidak seperti di desa. Aku dimasukkan kesebuah panti
asuhan, karena pada saat itu aku SMP jadi aku dimasukkan sebagai anak
non panti karena dipanti hanya untuk anak sampai SD. Di kamar tersebut
aku bertemu dengan orang-orang yang umurnya lebih tua karena sudah
sekolah di SMK. Pertama aku datang ke
Itulah
sepenggal hidupku yang mungkin bisa menjadi pelajaran, terutama bagi
diriku sendiri. Aku mengharapkan masukan-masukan dari anda yang mungkin
bisa aku lakukan untuk menjadi yang lebih baik dari sekarang. Sebelumnya
saya mengucapkan banyak terima kasih atas masukan-masukan yang anda
berikan karena itu semua sangat bermanfaat bagi hidupku. Jika ada
kata-kata yang salah atau tidak nyambung saya mohon maaf. TERIMA KASIH
( http://www.hari-yanto.webs.com/ )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar