Selasa, 25 Februari 2014

pengalaman hidup

“INILAH AKU dan HIDUPKU”


             Aku terlahir dari keluarga yang sederhana, aku mempunyai 3 saudara dan aku anak terakhir. Sebagai anak terakhir, aku yang paling membebankan beban orang tua. Sewaktu kecil aku terkena penyakit yang sulit disembuhkan oleh dokter dan tidak di ketahui jenisnya. Orang tuaku bekerja keras mencari biaya dengan berbagai cara, tidak kenal panas maupun hujan  untuk mencari biaya supaya dapat membeli obat, waktu kecil hampir setiap hari hanya obat yang aku makan tetapi tidak kunjung sembuh. Setelah beberapa bulan aku sakit, ada seseorang yang menyarankan untuk membawa aku ke sebuah makam seorang pastor, disana aku diajak berdoa dan di beri sebuah bibit pohon kamboja yang daun dan bunganya harus direbus dengan air lalu aku disuruh untuk meminumnya. Setelah beberapa hari ternyata penyakit itu semakin berkurang. Selama masa kecil aku di jaga oleh kedua kakakku selama orang tua berada di ladang untuk bekerja mencari rejeki untuk biaya sekolah kedua kakakku. Pada saat aku mulai masuk TK aku berubah menjadi anak yang paling nakal di antara semua teman-temanku, jika keinginanku tidak dituruti apa saja bisa aku rusak, aku masih belum tau kalau beban orang tua tidak cukup hanya untuk memenuhi keinginanku, sifat itu aku bawa hingga aku duduk di bangku SD. Dulu waktu pulang sekolah yang paling sering aku lakukan adalah bermain lempar batu yang paling jauh itu yang menang, lemparanku paling sering terkena genting rumahnya orang sehingga jika yang punya rumah sudah keluar, aku pasti langsung lari, dan juga jika melewati ladang yang ada buahnya tidak lupa aku mampir untuk memetik tidak peduli itu milik siapa. Hingga tanaman orang tuaku aku rusak dan aku buat pedang-pedangan hingga banyak yang putus, aku pernah diikat pada sebuah pohon oleh ibuku karena kelakuanku sambil aku menangis tetanggaku yang kebetulan berada di ladang tersebut menertawaiku, saat itulah aku dikenal orang-orang desa sebagai anak yang paling nakal, hingga sekarang pun jika aku pulang dari surabaya dan kebetulan ada doa bersama aku pasti ditanya sama orang-orang “ iseh nakal opo ora “ ( masih nakal apa tidak ), aku jawab ya tidak. Kedewasaan membuat sifat orang bisa berubah. Dulu aku hanya mementingkan kesenangan tidak pernah memikirkan beban yang ditanggung orang tua. Dulu waktu SD jika bawa uang saku aku diberi Rp.200,- oleh orang tuaku itupun tidak setiap hari, sehingga aku pernah mengambil uang punya nenek Rp.500,- untuk beli jajan. Setelah lulus SD aku melanjutkan ke SMP Katolik yang jaraknya jauh dari rumah jika berangkat sekolah dari rumah pukul 05.00 pagi dan sampai di sekolah pukul 06.30 itupun ditempuh dengan jalan kaki. Tetapi aku sekolah di smp hanya satu bulan karena pada waktu itu tiba-tiba kakaku yang bekerja di surabaya datang kesekolahan untuk menjemput dan aku langsung disuruh pamitan pada semua guru dan teman-teman. Akhirnya aku meneruskan sekolah di surabaya. Dulu aku sangat pengen sekali melihat suasana kota dan aku pikir hidup di kota itu sangat enak, aku tidak ada persiapan sama sekali karena tidak diberi tahu sebelumnya, keesokan harinya aku berangkat ke surabaya. Sampai disurabaya aku merasa sangat kagum dengan suasana kota, tetapi udara di surabayasurabaya, aku tidak tau apa-apa, jd kalau bicara masih ada bahasa jawanya. Setelah orang-orang yang sekolah di SMK sudah lulus, ada lagi seorang teman yang masuk disitu tetapi umurnya juga lebih tua, mulai dari situlah aku diajari bahasa-bahasa kasar dan diajak merokok, minum-minuman keras hingga mencuri walaupun anak itu sering mencuri tetap tidak ada yang tau, akupun hanya ikut-ikutan karena ku tidak tau apa-apa, walaupun aku didesa dikenal paling nakal tetapi setelah di surabaya aku tidak berani berbuat apa-apa kalau tidaka ada yang mengajak. Setelah beberapa bulan lagi masuk seorang anak, awalnya baik tetapi setelah beberapa lama sifatnya sama seperti temanku tadi, karena disitu aku yang paling kecil, aku yang paling sering dikerjai karena aku masih katrok untuk bergaul dg orang kota. Dulu aku berpikir kalau hidup dikota itu enak tetapi setelah dijalani malah sebaliknya. Aku hampir putus asa dan ingin keluar dari sana, saat liburan aku bicara kepada orang tuaku kalau aku ingin keluar tetapi aku justru dimarahi dg kata-kata yang membuat aku jadi sedih, saat kembali kesurabaya ibuku ikut untuk bicara kepada suster pimpinan, orang tuaku menyerahkan aku untuk dididik oleh suster sambil menangis, aku yang berada disampingnya juga tidak luput ikut sedih hingga menangis juga. Akhirnya aku berusaha kuat dan menjalani kehidupan sehari-hari hanya berbekal kesabaran, mungkin Tuhan sudah mengatur hidupku, hingga pada suatu saat suster yang membimbing aku dan teman-teman marah-marah karena masalah kamar yang di coret-coret dll, sampai memberi tiga peringatan, tetapi itupun tidak dipedulikan. Saat hari minggu  suster datang lagi kekamar untuk mengecek, setelah melihat kamar yang begitu berantakan suster itu marah-marah dan kami disuruh mengemasi barang-barang dan besok harus sudah keluar dari kamar tersebut. Setelah aku merasakan tidur diluar aku sangat senang karena bisa berpisah dengan teman-teman yang mengajariku hal-hal negatif, mungkin jika aku tetap bersama temanku tadi sifat jelekku mungkin masih ada, tetapi setelah hidup diluar, sekarang aku merasakan balasannya, aku tidak bisa merasakan kesenangan seperti dulu yang tiap bulan harus membayar kos, aku lebih banyak berdiam diri, tetapi setelah hidup diluar aku merasakan banyak perubahan tidak pernah ditakuti oleh rasa takut, karena aku tau, aku bukan orang yang kaya lebih baik berdiam diri dan lebih baik tidak punya apa-apa dari pada harus sering melakukan hal-hal yang negatif. Selama hidup diluar aku tidak pernah membawa uang saku karena aku tau uangnya sudah dipakai untuk membayar kos, walaupaun begitu aku tidak pernah mengeluh hanya kesabaran yang menjadi motivasiku. Aku hanya merasa tidak enak dengan teman-temanku karena jika disuruh membayar sesuatu aku tidak bisa langung membayar, mungkin butuh waktu untuk mengumpulkan karena jika aku terus-menerus meminta kepada kakakku dan orang tuaku aku merasa kasihan. Apalagi sekarang sekolah butuh biaya yang sangat tinggi. Walaupun begitu aku tetap bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk sekolah di tempat ini, Tuhan juga telah mengubah hidupku dengan memberi jalan yang lebih baik. Sampai sekarang aku merasa orang-orang memandangku sebagai anak yang tidak baik meskipun aku tidak tau yang sebenarnya, yang terpenting aku jalani saja hidup ini dengan hal-hal positif, tidak peduli dengan pikiran dan kata orang. sangat panas sekali tidak seperti di desa. Aku dimasukkan kesebuah panti asuhan, karena pada saat itu aku SMP jadi aku dimasukkan sebagai anak non panti karena dipanti hanya untuk anak sampai SD. Di kamar tersebut aku bertemu dengan orang-orang yang umurnya lebih tua karena sudah sekolah di SMK. Pertama aku datang ke

Itulah sepenggal hidupku yang mungkin bisa menjadi pelajaran, terutama bagi diriku sendiri. Aku mengharapkan masukan-masukan dari anda yang mungkin bisa aku lakukan untuk menjadi yang lebih baik dari sekarang. Sebelumnya saya mengucapkan banyak  terima kasih atas masukan-masukan yang anda berikan karena itu semua sangat bermanfaat bagi hidupku. Jika ada kata-kata yang salah atau tidak nyambung saya mohon maaf. TERIMA KASIH
( http://www.hari-yanto.webs.com/ )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar